Tim admin kita siap membantu menjawab pertanyaan anda. Silahkan tanyakan apa saja!

Bahagia Itu Sederhana

Bahagia Itu Sederhana
oleh H.Lukman Nur Hakim

Bahagia itu sangat sederhana. “Ngaji bisa salaman dengan Kyai.”  Mohon maaf ini persepsi penulis di saat ikut ngaji bersama tokoh ulama yang menjadi idola dalam hidupnya. Ngaji mencari nasehat dari para kyai yang selalu dinanti, untuk  dapat menyejukkan pikiran dan hati.

Ngaji bersama kyai, sebagai salah satu jalan bagi penulis untuk memiliki sosok guru sebagai panutan dan tauladan diri. Mengikuti kajian-kajian  yang diasuhnya, menjadi usaha memanfaatkan momentum ngaji untuk dapat bersilaturahmi dengan kyai.

Ketika ngaji ketemu dengan kyai yang membacakan kitab yang dikaji dan dapat memandang dengan sepuasnya, mendengar nasehat yang keluar dari lisannya merupakan kenikmatan bagi para santri yang ikut ngaji. Tidak ketinggalan pula hal yang sama dialami penulis. Ngaji sebagai kenikmatan membangun potensi dan memotivasi diri untuk selalu dapat mendekat dengan Ilahi.

Kebahagiaan santri sebagai peserta yang ikut ngaji, yang dialami penulis tentu berbeda dengan kebahagiaan sosok Kyai yang memberi materi dengan membedah kitab yang dikaji.

Menurut Kyai Subhan Ma’mun pada ngaji rutinan kitab Ibnu Katsir, setiap jumat pukul 16.00 WIB di masjid Istiqomah Luwungragi (13/11/2020). Beliau mengatakan, “Rasa bahagia itu kalau bisa mengajar pada santri. Rasanya plong dan nikmat sekali setelah mengajarkan membaca kitab bersama para santri.” Kebahagiaan itu datang bersama dengan yang disukai.

Jangan menganggap orang alim itu  sengsara dengan keterbatasan harta. Mereka memiliki kebahagian tersendiri. Semisal saja, dapat membaca kitab dan memahaminya dengan benar terasa bahagia dan senang sekali. Bahkan kalau ada kesalahan dalam memahami kitab yang dibacapun. Beliau sangat faham dan terus mengulang-ngulang bacaannya. Sehingga menemukan apa yang dibaca,  arti dan maknanya yang benar. Hal ini  merupakan keistimewaan dari Allah SWT terhadap orang alim.

Sesungguhnya Allah SWT menitipkan ilmu  pada orang yang dipilih-Nya. Berbeda dengan harta. Siapapun bisa mendapatkannya. Karena sesungguhnya harta yang didapat tidak membedakan apakah ia beriman ataupn tidak.
Menjadi orang alim tidak dibatasi oleh tempat dan waktu. Ia akan tetap mencerminkan kealimannya dimanapun berada. Kehadirannya pun selalu dinanti-nanti sebagai solusi permasalahan umat, yang didukung oleh akhlak yang mulia.

Sosok seorang yang alim tidak bisa dibeli. Kalaupun orang alim tersebut meninggal mencari penggantinya pun sangat sulit. Berbeda dengan yang lainnya. Semisal saja jabatan tertentu,  yang memegang sekarang belum habis masa jabatannya,  para calon pengganti sudah ramai dibicarakan.

Wallahu ‘alam bishowwab

Bagikan ke:

Share on facebook
Facebook
Share on email
Email
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Tinggalkan Komentar

Kamut Ulama Salaf

Wali Santri Ponpes 1

Untuk menjalin berkomunikasi antara pengurus, dengan wali  santri, silahkan klik tombol dibawah ini.

Wali Santri Ponpes 2

Untuk menjalin berkomunikasi antara pengurus, dengan wali  santri, silahkan klik tombol dibawah ini.

Alumni Ponpes 1

Wadah menjalin berkomunikasi antara Alumni Ponpes 1 silahkan klik tombol dibawah ini.

Alumni Ponpes 2

Wadah menjalin berkomunikasi antara Alumni Ponpes 2 silahkan klik tombol dibawah ini.

Konsultasi

Pondok I

Klik disini untuk chat dengan mengirim Pesan Whatshapp ke Pengurus Pondok Pesantren Assalafiyah I Brebes

Pondok II

Klik disini untuk chat dengan mengirim Pesan Whatshapp ke Pengurus Pondok Pesantren Assalafiyah II Brebes

Email

Klik disini untuk mengirim email kepada admin tentang pertanyaan dan saran untuk Ponpes Assalafiyah Brebes