Tim admin kita siap membantu menjawab pertanyaan anda. Silahkan tanyakan apa saja!

Dua Jalan Pertemanan

Oleh : H.Lukman Nur Hakim

Sabtu, ( 5 Ramadhan 1442 H / 17 April 2021) ngaji kitab Bidayatul Hidayah bersama K.H. Subhan Ma’mun pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Bulakamba Brebes.

Sebelum ngaji dengan membacakan kitab Bidayatul Hidayah, di hadapan jamaah, K.H. Subhan Ma’mun biasanya terlebih dahulu mutola’ah (membaca/menganalisis) kitab yang akan dibacakannya, minimal 20 menit dan hal ini sudah beliau lakukan bertahun-tahun. Mutola’ah ini dilakukan dalam rangka kehati-hatian beliau dalam memberi makna pada kitab yang sedang dikajinya.

Dalam ngaji rutinan Ramadhan mulai hari ke 5, 6, dan 7 kitab bidayatul hidayah, karya Imam Al-ghozali, penulis membuat catatan ngaji sebagai berikut :

Dalam istilah pertemanan, ada 3 macam teman yang perlu diketahui;

  1. Teman dekat yaitu teman akrab atau teman bermain sejak kecil
  2. Teman karena kenalan, seperti teman satu pekerjaan, teman haji bareng, teman dalam perjalanan dan lain-lain
  3. Teman yang kurang paham hukum, teman awam atau bodoh.

Kalau seandainya kita berada dan memiliki teman orang yang awam pada hukum, agak sedikit kurang paham dengan etika berbicara dan prilaku. Maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan, ketika berada di lingkungan mereka.

Pertama, tinggalkan pembicaraan dan tidak ikut asik dalam obrolan mereka. Hal ini dilakukan agar terhindar dari kata-kata kotor atau tidak baik keluar dari mulut mereka. Oleh karena itu, perlu kehati-hatian dan jangan sampai terbawa oleh arus pembicaraan mereka.

Kedua, berteman dengan orang awam, minimal tidak terlibat langsung dalam obrolan yang kurang manfaat. Barangkali ada kata atau kalimat ketidakcocokan, berita bohong, dan ucapannya emosional. Atau kalau sudah terlanjur ada dalam obrolan mereka, lebih baik diam, kalaupun ingin mengomentari pembicaraannya, cukup berbicara seperlunya.

Ketiga, jaga pembicaraan dengan orang awam, jangan terlalu lama mendengarkan obrolan mereka. Karena, dikhawatirkan obrolan dengan orang awam akan bikin gaduh diri dan keluarga, serta obrolan orang awam banyak yang kurang baiknya. Oleh karena itu, dari ucapan orang awam jangan mudah diambil hati. Karena dari mulut orang awam sering keluar kata-kata yang menyakitkan. Apabila ada kata-kata yang janggal, maka segera lakukan klarifikasi terhadap apa yang dikatakannya, agar tidak menyebar dan timbul fitnah.

Keempat, jangan terlalu butuh, mengharapkan darinya. Karena dalam diri orang awam, biasanya suka menceritatakan kekurangan dari temannya dan tidak mampu menjaga rahasia temannya pula.

Kelima, jangan bosan-bosan mengingatkan orang awam agar menjadi baik dan mendoakan mudah-mudahan hidupnya husnul hotimah. Karena, biasanya sifat orang awam biasanya sering lupa terhadap apa-apa yang dikatakan dan dilakukannya. Makanya perlu diingatkan terus, sebagai usaha menuju kebaikan dunia dan akhiratnya.

Keenam, jangan menampakkan kebencian pada orang awam. Walaupun tidak suka padanya, berbuat baik tetap menjadi keharusan dan ditampakkan. Jika terlihat orang-orang awam sedang ngobrol lebih baik menghindar untuk bertemu dan bila mendengar kata-kata yang kurang baik, segera lupakan saja. Karena menghindarkan diri dari kejelekan kata yang keluar dari mulutnya.

Ketujuh, ketika orang awam sedang bermaksiat atau berbuat dosa, maka ingatkan dengan kalimat yang halus dan baik, jangan membuatnya marah dan akhirnya membenci kita. Kalaupun ketika diingatkan marah, maka tinggalkan saja dulu. Perlu dicamkan, mengajak meninggalkan kemaksiatan dengan memberi manfaat, bukan menjadi marah, benci apalagi takut. Nasehat itu sendiri menghantarkan orang akan cinta akhirat dan menuju semakin baik.

Dalam tatacara pertemanan, seyogyanya kita saling menjaga satu sama lainnya. Mengutamakan pertemanan daripada harta benda yang dimilikinya sendiri. Menolong teman dengan cepat, sebelum ia meminta tolong. Menyembunyikan rahasia atau menutupi aib dan tidak menyampaikan perkataan orang lain yang mencela atau menyakitkan teman. Dan mendengarkan dengan baik perkataannya saat berbicara.

Tatacara pertemanan yang baik, secara sederhana tertulis dibawah ini :

Pertama, menerima pertemanan dengan baik, tidak saling membantah antara satu dengan yang lainnya. Dimulai dengan memanggil , dengan cara panggilan yang baik atau panggilan yang disukainya. Memuji atas kebaikan yang diketahui saja, tidak melebih-lebihkan. Berterima kasih atas kebaikan yang diberikan sekecil apapun.

Kedua, saat menjalani pertemanan, dijalani dengan saling mengisi. Ketika teman ada masalah dengan orang lain, bisa membantunya, minimal memberi penjelasan kepada orang yang berpikir negatif pada temannya. Mampu menasehati dengan baik. Selalu memaafkan kekhilafan dan kesalahan teman dan tidak mencelanya.

Ketiga, sering ingat pada temannya ketika sendirian dan mendoakan untuk kesehatan dan keberkahan hidupnya. Ketika temannya meninggal tetap mencintai keluargannya. Hidupnya tidak memberatkan, bahkan sebaliknya selalu meringankan beban temannya.

Keempat, dalam setiap berpapasan atau bertemu, selalu menampakkan rasa suka dan keceriaannya. Mewujudkan kecintaan dengan benar secara lahir dan batin. Memberi salam, ketika mau duduk meluaskan tempat duduknya. Dan perlu dicatat, dalam menempatkan duduk teman, sebaiknya jangan menggeser tempat duduk orang lain. Karena hal itu akan menyakiti orang yang sudah duduk di tempat atau kursi tersebut.

Kelima, ketika sahabat sedang bertamu dan mau pulang. Hantarkan sampai ke pintu rumah, dan masuk rumah kembali setelah tamu sudah berjalan pulang. Dalam obrolan dengan tamu, tidak memotong pembicaraan, tetap diam ketika teman sedang berbicara, tunggu sampai selesai pembicaraannya, baru berbicara.

Ada nasehat tentang sejatinya teman menurut Imam Al Ghazali, “Bila tidak mencintai teman seperti mencintai diri sendiri, maka pertemanannya masih tidak ikhlas.” Artinya dalam pertemanan masih mempunyai anasir-anasir munafik dan bentuk pertemanan ini akan membawa pada kerugian dunia dan akhirat.

Sedangkan Sayyidina Ali bin Abi Thalib menyebutkan teman yang sebenarnya adalah: “Orang yang selalu menolongmu di waktu senang dan susah, dia sanggup berkorban saat memberi manfaat kepadamu, dan dia sanggup membagi segala urusannya untuk menolong kamu dalam menghadapi bala dan ujian.”

K.H. Subhan Ma’mun memberi penegasan tentang pertemanan “Jadilah teman yang keras seperti linggis dan lunak seperti tutus.” Linggis yang terbuat dari baja tidak mudah bengkok oleh apapun, komitmen pertemanannya tak tergoyahkan, sedangkan tutus yang halus dapat mengikat permasalahan teman. Masalah yang bertubi-tubi diikat dan diselesaikan dengan bijak. Beliaupun menegaskan tentang teman yang suka berbohong, “Jauhi teman yang suka bohong, apalagi disertai sumpah.” Karena dengan seringnya orang bersumpah dapat diindikasikan orang tersebut suka berbohong. Ingatlah bahwa tolak ukur keimanan seseorang juga, dapat dilihat dari kedekatan bersama siapa dan dari segi ucapannya. Oleh karena itu, tetap berhati-hatilah dalam memilih teman, dan jangan asal berteman. Ingat!!, seorang yang akan dijadikan teman harus jelas silsilah keilmuan (lulusan mana?) dan kealimannya.

Adapun dalam pertemanan belajar atau mencari ilmu, maka teman yang selayaknya dipilih adalah :

  1. Cerdas, karena teman belajar yang bodoh atau dungu lebih banyak mencelakai karena kebodohanya. Meskipun kadang maksud yang disampaikan baik. Orang bodoh sendiri akan merusak pertemanan dan kesabaran. Begitu pula dengan berteman dengan yang kaya dan banyak uangnya saja, nanti akan mengajak pada bermain saja, tidak belajar. Berteman dengan orang cerdas akan berloba-lomba dalam kecerdasan.
  2. Akhlak terpuji, jangan bersahabat dengan orang yang berakhlak buruk, yaitu orang yang tidak sanggup menguasai diri ketika sedang marah atau memiliki keinginan,” Akhlak teman, selayaknya diperhatikan tidak hanya pada situasi normal semata, namun juga dari sisi apapun menjadi tolak ukurnya. Akhlak seseorang yang akan menjadi teman, perlu diperhatikan dalam situasi marah atau syahwat. Kalau dalam situasi marah atau syahwat seseorang dapat mengendalikan diri, maka layak menjadi teman belajar. Karena dengan teman memiliki aklak yang jelek tidak akan mampu menahan nafsunya ketika marah. Tapi ingat! marah tidak boleh dihilangkan, karena marah juga wajib hukumnya, ketika harta dirampas. Maka, disitulah marah harus ada.
  3. Shalih, jangan bersahabat dengan orang fasik yang terus menerus melakukan perbuatan dosa besar dan jelas-jelas menunjukan ketidaktakutan pada Allah SWT. Sebaliknya orang yang takut kepada Allah SWT, dipastikan takkan terus menerus berbuat dosa besar. Orang fasik sulit dipercaya dan tidak konsisten terhadap ucapannya. Sedangkan berteman dengan orang shalih akan menjauhkan diri dari dosa besar dan dekat dengan Allah SWT. Allah SWT berpesan kepada Rasulullah SAW dalam Surat Al-Kahfi ayat 28 yang Artinya, “Jangan kau ikuti orang yang Kami lalaikan hatinya untuk mengingat Kami dan orang yang mengikuti hawa nafsu dan adalah keadaannya itu melewati batas.”
  1. Serakah terhadap dunia, jangan cari sahabat yang gila dunia.Persahabatan dengan orang yang gila dunia (serakah) adalah racun yang mematikan. Hidup bersama orang serakah akan menambah keserakah dirinya sendiri. Sementara persahabatan dengan orang zuhud dapat menambah kezuhudannya.”
  1. Jujur, Jangan bersahabat dengan pendusta. Kau tidak ingin tertipu olehnya. Pendusta itu seperti fatamorgana, dapat mendekatkan sesuatu yang jauh dan menjauhkan yang dekat darimu, Kejujuran ini sangat penting karena ia akan memberikan informasi atau kabar yang valid dan akurat kepada kita. Setidaknya, ia membawa kabar apa adanya, bukan interpretasi atau tafsirnya atas informasi tersebut.

Lima kriteria ini merupakan acuan bagi kita untuk mencari sahabat sejati khususnya dalam mencari ilmu. Memang tidak mudah untuk mendapat orang sempurna seperti ini. Tetapi setidaknya kita dapat mencari seseorang yang mendekati kriteria tersebut.

Dalam menjadi santri ataupun anak kos, minimal memiliki teman yang bisa menghutangi saat uang kiriman terlat. Ketika berbuat baik terus diingatnya dan sebaliknya ketika pernah berbuat jelek ia menutupinya. Mau mendengarkan kebenaran yang disampaikan, memilih tidak berselisi dalam berbagi hal dan saling ridho satu sama lainnya. Wallahu’alam bishowab.

Bagikan ke:

Share on facebook
Facebook
Share on email
Email
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Tinggalkan Komentar

Kamut Ulama Salaf

Wali Santri Ponpes 1

Untuk menjalin berkomunikasi antara pengurus, dengan wali  santri, silahkan klik tombol dibawah ini.

Wali Santri Ponpes 2

Untuk menjalin berkomunikasi antara pengurus, dengan wali  santri, silahkan klik tombol dibawah ini.

Alumni Ponpes 1

Wadah menjalin berkomunikasi antara Alumni Ponpes 1 silahkan klik tombol dibawah ini.

Alumni Ponpes 2

Wadah menjalin berkomunikasi antara Alumni Ponpes 2 silahkan klik tombol dibawah ini.

Konsultasi

Pondok I

Klik disini untuk chat dengan mengirim Pesan Whatshapp ke Pengurus Pondok Pesantren Assalafiyah I Brebes

Pondok II

Klik disini untuk chat dengan mengirim Pesan Whatshapp ke Pengurus Pondok Pesantren Assalafiyah II Brebes

Email

Klik disini untuk mengirim email kepada admin tentang pertanyaan dan saran untuk Ponpes Assalafiyah Brebes