Tim admin kita siap membantu menjawab pertanyaan anda. Silahkan tanyakan apa saja!

Jadi Santri itu Berat, tapi Nikmat dan Terhormat

Jadi Santri itu Berat, tapi Nikmat dan Terhormat

Santri bukanlah yang mondok saja, tapi siapa saja yang berakhlak seperti santri dialah santri. Begitulah sepenggal definisi santri menurut KH.Mustofa Bisri atau yang lebih akrab disapa Gus Mus.

Yah kita semua adalah santri yang senantiasa mengikuti (ittiba’) dengan ulama dan kyai. Santri pun bisa dilihat dari tingkah lakunya sehari-hari yang selalu berusaha untuk memperbaiki akhlak, ibadah, dan menambah ilmu agama.

Karena tanpa ilmu agama dan tuntunan seorang Kyai, ibadah dan cara pandang bergama kita pun akan keblinger. Maka disinilah pentingnya seorang santri yang senantiasa terus menambah dan mencari keberkahan ilmu agama, bahkan sampai tutup usia.

Talimul Mutaalim sebagai kitab basic untuk kalangan santri dan pelajar Islam pun berkata dalam syairnya :

وكن مستفيدا كل يوم زيادة# من العلم واسبح فى بحور الفوائد

Artinya : Jadilah engkau orang yang yang selalu istifadah (mengambil faidah) ilmu dalam setiap waktu, dan tenggelamlah kamu dalam samudra faidah ilmu.

Akan tetapi yang perlu digaris bawahi, bahwa dalam mencari ilmu itu banyak halang rintang dan godaan. Di sini lah mungkin seninya, seorang santri dituntut bukan hanya mahir dalam mengolah kecerdasan intelektual, akan tetapi juga harus mempunyai jiwa semangat yang tinggi dan tahan banting.

Kalau kita lihat ada sebagian adik-adik santri yang tangannya gudikan, gatal-gatal, sakit mata dan lain-lain, mungkin itu hanya contoh kecil cobaan santri, yang hampir semuanya pernah merasakanya.

Di pondok pesantren pun, santri biasanya bukan hanya diasah dari segala hafalan dan memahami materi kitab kuning, akan tetapi juga diajari tentang kedisiplinan. Disiplin dalam menjaga sholat berjamaah, mengikuti kegiatan pesantren, dan tentu harus bisa pandai mengatur waktu dengan sebaik-baiknya, agar durasi mondok di pesantren, 5 atau 6 tahun umpamanya, berjalan lebih maksimal.

Santri pun harus mengenal bagaimana cara untuk hormat dan ta’dzim kepada orang tua dan guru. Bahkan di sinilah ruhnya menjadi seorang santri.

ما وصل من وصل الا بالحرمة

“Tidaklah akan memetik hasil bagi orang yang menginginkanya, kecuali dengan mempunyai sifat menghormati” (Talimul Mutaalim, hal.43)

Guru kita Romo KH.Subhan Ma’mun pun sering memberikan nasehat kepada kita,” Kalau kamu ingin mulia, muliakan lah orang yang sudah mulia”

Di titik inilah kita sebagai kaum santri harus lebih memperhatikan, bahkan hormat dan rasa tadzim kepada guru, ulama, dan kyai, harus menjadi prioritas dan program unggulan dalam hati sanubari kita.

Yah, jadi santri memang berat, tidak hanya dituntut untuk mendalami materi pelajaran belaka, melainkan juga harus memperhatikan beberapa factor x lainya, yang mana semuanya juga tidak kalah penting dan sama-sama menjadi instrument yang urgent dalam kehidupan seorang santri.

Maka sangatlah tepat apa yang didawuhkan juga oleh Romo KH.Yahya Cholil Staquf “ Kamu jadi santri (itu) berat, harus mengaji, harus belajar, tapi juga nikmat. Karena diluhurkan derajatmu”

“Amin Ya rabbal alamin” doa amin penulis dalam hati dan tentu juga doa pembaca budiman semua, ketika melihat statement beliau Katib Am PBNU, yang mana kemudian didokumentasikan oleh akun resmi Generasi Muda NU.

Karena sesuai janji Allah dan Rasul-Nya, bahwa orang yang mempunyai ilmu akan ditinggikan derajatnya. Dan tentu kita berharap, baik di dunia maupun di akhirat kelak, dan bahkan kerbakahan ilmu semoga sampai anak keturunan kita. Amin !

Derajat dan maziyah orang yang beilmu (ulama) pun bisa kita lihat dari beberapa literasi dan qoul ulama dalam kitab ‘al mu’tabarah, diantaranya adalah seperti kutipan di bawah ini :

Hujjatul al-Islam al-Imam al-Ghazali berkata:

فأعظم بمرتبة هي تلو النبوة وفوق الشهادة مع ما ورد في فضل الشهادة

“Sungguh betapa agungnya level ulama yang mengiringi derajat kanabian dan melampaui derajat syahadah (mati syahid) padahal terdapat hadits yang menjelaskan begitu agungnya keutamaan syahadah (mati syahid). (Syekh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Ihya Ulum al-Din, juz.1, hal.6).

Dalam referensi yang lain, al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith mengatakan:

قلت وفي ذلك دليل على أن العلماء العاملين أفضل عند الله من الشهداء الذين قتلوا في سبيل نصر الدين. قال الحسن البصري يوزن مداد العلماء بدم الشهداء فيرجح مداد العلماء على دم الشهداء.

“Aku berkata, dalam keterangan tersebut menunjukan bahwa para ulama yang mengamalkan ilmunya lebih utama di sisi Allah dibanding para syuhada yang terbunuh di jalan perjuangan agama. Al-Hasan al-Bashri berkata; kelak dibandingkan antara tinta para ulama dan darah para para syuhada, maka lebih unggul tinta para ulama atas darah para syuhada.” (al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith, al-Manhaj al-Sawi, hal.87-88).

Terakhir, teriring doa semoga kita sebagai kaum santri, baik yang pernah berdomisili di pesantren atau pun tidak, senantiasa mengikuti dawuh romo yai dan guru-guru kita, agar selamat di dunia dan akhirat. Amin !

Wallahu ‘alam bishowwab
Oleh Ulil Absor

Bagikan ke:

Share on facebook
Facebook
Share on email
Email
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Tinggalkan Komentar

Kamut Ulama Salaf

Wali Santri Ponpes 1

Untuk menjalin berkomunikasi antara pengurus, dengan wali  santri, silahkan klik tombol dibawah ini.

Wali Santri Ponpes 2

Untuk menjalin berkomunikasi antara pengurus, dengan wali  santri, silahkan klik tombol dibawah ini.

Alumni Ponpes 1

Wadah menjalin berkomunikasi antara Alumni Ponpes 1 silahkan klik tombol dibawah ini.

Alumni Ponpes 2

Wadah menjalin berkomunikasi antara Alumni Ponpes 2 silahkan klik tombol dibawah ini.

Konsultasi

Pondok I

Klik disini untuk chat dengan mengirim Pesan Whatshapp ke Pengurus Pondok Pesantren Assalafiyah I Brebes

Pondok II

Klik disini untuk chat dengan mengirim Pesan Whatshapp ke Pengurus Pondok Pesantren Assalafiyah II Brebes

Email

Klik disini untuk mengirim email kepada admin tentang pertanyaan dan saran untuk Ponpes Assalafiyah Brebes