Tim admin kita siap membantu menjawab pertanyaan anda. Silahkan tanyakan apa saja!

Lemah Lembut dan Tidak Sombong

Oleh : H.Lukman Nur Hakim

Minggu Pahing, 13 September 2020, di Mushola Al-ikhlas Luwungragi Bulakamba Brebes. Menjadi tempat ngaji rutin pahingan yang ke 232, jamiyyah Ahlith tharikah al-muktabarah Syadziliayh an-Nahdiyah yang diasuh oleh KH. Subhan Ma’mun.

Model ngaji pahingan yang diasuh oleh KH. Subhan Ma’mun bertempat tidak di satu tempat, seperti ngaji mingguan, selasanan, rabunan dan jum’atan yang bertempat pada satu tempat saja. Ngaji pahingan termasuk ngaji yang sudah dilaksanakan lebih dari 15 tahun, dengan peserta sekitar 300 jamaah laki-laki semua. Dan berpindah-pindah tempatnya, sesuai dengan tempat tinggal jamaah yang ikut pengajian. Dan kebetulan mendapat kesempatan menjadi tuan rumah kegiatan pengajian.

Adapun ngaji pahingan menggunakan kitab yang dikaji Kifayat al-Atqiya’ Wa Minhaj al-Ashfiya. Dikarang oleh Syekh Abu Bakr as-Sayyid al-Bakri ibn as-Sayyid Muhammad Syatha ad-Dimyathi, yang berisi tentang tasawut, bagaimana mengasah ketajaman rohani, untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. yang diajarkan oleh para guru dengan dilandasi oleh Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Dalam Kitab “Kifayat al-Atqiya” dibahas juga tentang bagaimana, cara menjalani kehidupan yang baik, sesuai dengan ajaran agama Islam melalui sentuhan tasawuf, akhlak dan pendidikan, bagaimana cara bergaul sesama manusia dengan baik, begitu pula dengan Tuhannya.

Para jamaah ngaji, sepertinya dituntun oleh pengarang kitab, diingatkan akan fitrahnya sebagai manusia dan ditunjukan jalan hidupnya, untuk menjalani kehidupan pada rel yang telah ditetapkan oleh penciptanya, yaitu Allah Swt. Karena Dia lah yang paling mengetahui segalanya tentang semua makhluk ciptaan-Nya.

Fitrah ini pula yang akan mengangkat harkat dan martabat manusia pada posisi yang seharusnya yaitu sebagai makhluk paling mulia yang diciptakan Allah Swt yang diantaranya dapat tetap terpelihara dengan didukung oleh keberhasilan suatu proses pembelajaran dalam kehidupan. Ngaji sebagai koreksi dan rambu-rambu menjalani kehidupan, untuk berjalan pada arah yang digariskan oleh Allah Swt.

Ngaji disini juga dalam rangka menggali pemikiran Sayyid Bakri Al-Makki, Dalam Kitab Kifayatul Atqiya Wa Minhajul Ashfiya. Beliau mengatakan “Ada tiga ilmu yang harus dipelajari dan hukumnya “Fardhu ‘Ain”, yaitu:
1. Ilmu yang dapat menghantarkan kepada sahnya ibadah, yaitu ilmu syari’at atau ilmu fiqih.
2. Ilmu yang dapat menghantarkan kepada sah atau validnya berkeyakinan, yaitu ilmu tauhid atau ilmu aqidah.
3. Ilmu yang dapat membersihkan atau mensucikan hati, yaitu ilmu tasawuf.

Adapun beberapa nasehat yang di sampai pada ngaji yang ke 232 oleh Kyai Subhan adalah sebagai berikut :

Orang alim ataupun yang menurut dirinya adalah wali, jangan sampai membuat ketersinggungan terhadap para guru-gurunya yang dulu telah mengajarnya sejak kecil. Karana anda bisa sekarang atau menjadi orang hebat tidak bisa lepas dari, para guru yang telah sukses mengajar anda. Dengan sifat sombong dan mengatakan dirinya hebat, hal tersebut akan menyeret pada prilaku yang kurang baik pada tahapan perkembangan selanjutnya.

Bicara sombong, Kyai Makmun orang tua Kyai Subhan mengatakan bahwa sombong adalah penyakit hati, dan kalau enggak segera terobati maka akan menjerat manusia pada penyakit-penyakit lain dan perilaku jelek yang lebih banyak lagi, selanjutnya kalau dibiarkan akan sulit disembuhkan. Sehingga akan berdampak para pemilik perilaku sombong, hanya meninggalkan nama jelek dimana-mana.

Pesan yang kedua, kita tidak boleh menyakiti manusia maupun binatang. Karena semuanya adalah makhluk ciptaan Allah, yang mendapatkan kecukupan makan dan selalu dijaga dalam kekuasaan-Nya.

Mengenai larangan menyakiti binatang, Kyai Subhan bercerita tentang sosok Kyai Bilal Pemalang yang sangat hati-hati dalam menjaga dan memperlakukan binatang sebagai makhluk ciptaan Allah SWT.

Suatu hari, Istri Kyai Bilal menyuruh suaminya untuk mengambil daun pohong pisang di kebun belakang rumahnya. Sesampai dikebun dan ketika mau memotong daun pisang, tiba-tiba beliau membatalkan niat tersebut karena melihat banyak semut yang ada di pohon. Beliaupun akhirnya pulang dengan tangan hampa.

Setelah pulang ke rumah, tidak ditemukan daun pisang yang dibawa kyai Bilal. Istrinya pun beryanya?. “kenapa nggak ngambil daun pisang,” tanyanya. Kyai Bilal menjawab “Enggak enak sama semut yang belum keluar untuk mencari makan, mungkin ngambil daunya masih terlalu pagi, sehingga semut-semut belum keluar dari saranya yang di pohon pisang untuk mebcari makan.”

Beberapa saat kemudian, setelah terlihat matahari semakin panas memancarkan sinarnya, maka Bu Nyai bilal menyuruh salah satu santrinya, untuk mengambil daun pisang. Karena beliau berfikir, semutnya sudah pergi untuk mencari makan.

Inilah salah satu contoh adab atau akhlak seorang ulama, yang sangat menghormati kepada semua makluk ciptaan Allah. Kepada hewan saja berprilaku sopan apalagi kepada manusia, tentu akan lebih sopan pula.

Ketiga, bahwa Allah SWT dalam menciptakan sesuatu, Dia tidak akan membiarkan ciptaan-Nya kelaparan. Semua dicukupinya, baik yang menyembah kepada-Nya maupun tidak. Contoh nyata, ulat gendon walaupun hidupnya di dalam pohon turi, ia tidak kekurangan makan dan bahkan terlihat gemuk-gemuk.

Keempat, belajarlah pada kehidupan cara mendapatkan makan binatang semut. Kenapa kita juga belajar pada semut. Karena pada diri semut, ada prinsip hidup yang kuat dalam mencari makan. Semut kalau mau makan, tidak mau makan dari pemberian manusia secara langsung. Semut akan makan dari usaha kerja sendiri, ia akan berjalan dan ada proses usaha mencari, bukan manja atau diam diri, menunggu pemberian dari manusia.

Kelima, Siapa pun yang mengklaim dirinya, yang menganggap telah sampai pada puncak tertinggi tasawuf, hakikat, tetapi disaat bersamaan dia tak mengindahkan jalur-jalur syariat maka sesungguhnya jalan yang ditempuh adalah semu dan palsu. Apa pun alasannya, karena arti syariat ataupun hakikat yang sebenarnya adalah penghambaan yang haq kepada Allah.

Orang-orang makrifat hatinya penuh dengan mengesakan dan kesejukan dalam menguatkan keimanan kepada Allah, sehingga bagi siapa saja yang memandangnya akan kembali memiliki kekuatan keimanan. Didipandang menjadikan ingat kepada Allah. Maka berbahagilah yang dapat melihat dan berkumpul dengan orang-orang makripat.

Berbicara menggapai makrifat (mengenal Allah SWT) tidak segampang yang dibayangkan, akan tetapi butuh waktu dan tahapan- tahapan yang harus dilalui oleh seorang hamba. Di samping penuh tantangan untuk mendekatkan diri kepada-Nya juga harus benar-benar takut kepada Sang Kuasa dan memiliki guru yang mendampinginya.

Orang makrifat akan semakin yakin, akan ada peran tangan-tangan Allah dalam meriah kesuksesannya, ia selalu berusaha membersihkan diri dari membebani para tetangga dan bersifat lemah lembut kepada sesamanya. Bicaranya pun penuh makna dan menyejukan.

Di akhir pengajian beliau mengingatkan kembali, kepada para jamaah yang ngaji, berbekallah ketaqwaan yang kuat dalam meniti kehidupan, obati dan selamatkan diri dari penyakit hati, serta bersabarlah dalam segala hal. Karena Allah sendiri tetap sabar walaupun kepada para pembangkang perintah-Nya. Wallahu ‘alam bishowab.

Bagikan ke:

Share on facebook
Facebook
Share on email
Email
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Tinggalkan Komentar

Kamut Ulama Salaf

Wali Santri Ponpes 1

Untuk menjalin berkomunikasi antara pengurus, dengan wali  santri, silahkan klik tombol dibawah ini.

Wali Santri Ponpes 2

Untuk menjalin berkomunikasi antara pengurus, dengan wali  santri, silahkan klik tombol dibawah ini.

Alumni Ponpes 1

Wadah menjalin berkomunikasi antara Alumni Ponpes 1 silahkan klik tombol dibawah ini.

Alumni Ponpes 2

Wadah menjalin berkomunikasi antara Alumni Ponpes 2 silahkan klik tombol dibawah ini.

Konsultasi

Pondok I

Klik disini untuk chat dengan mengirim Pesan Whatshapp ke Pengurus Pondok Pesantren Assalafiyah I Brebes

Pondok II

Klik disini untuk chat dengan mengirim Pesan Whatshapp ke Pengurus Pondok Pesantren Assalafiyah II Brebes

Email

Klik disini untuk mengirim email kepada admin tentang pertanyaan dan saran untuk Ponpes Assalafiyah Brebes