Tim admin kita siap membantu menjawab pertanyaan anda. Silahkan tanyakan apa saja!

Memperlakukan Binatang dengan Baik

Minggu pahing, 31 Januari 2021, menjadi putaran ngaji pahingan yang ke 234. Ngaji yang diikuti oleh anggota jam’iyyah Ahlith thariqah al-muktabarah Syadziliayh an-Nahdiyah Kabupaten Brebes yang diasuh oleh KH. Subhan Ma’mun, sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Bulakamba Brebes.

Dalam ngaji pahingan bersama K.H. Subhan Ma’mun, beliau bercerita tentang peristiwa yang dialami beliau sendiri dengan beberapa binatang, yang diperlakukan dengan baik. Sehingga menurut penulis dari cerita tersebut menarik dan sangat layak untuk dituangkan kembali dalam catatan “Ngaji karo kang kaji.” dan sangat layak pula untuk ditiru dan kalau bisa dicoba juga. Adapun beberapa cerita yang disampaikan oleh K.H. Subhan Ma’mun adalah sebagai berikut :

K.H. Subhan Ma’mun berbicara dengan ulat.
K.H. Subhan Ma’mun merupakan salah satu sosok kyai yang masih suka menggeluti dunia pertanian. Dunia yang sudah banyak ditinggalkan oleh sebagian masyarakat Brebes. Sehingga kondisi sekarang sangat sulit untuk menemukan generasi penerus atau seorang pemuda yang mau bergelut dalam dunia pertanian tersebut.

Menjadi seorang petani, membuat K.H. Subhan Ma’mun, dapat menikmati hasil tanaman padinya untuk makan setahun, ples makan gratis untuk para santri saat puasa ramadhan tiba, bahkan dapat dikatakan sangat cukup dan kadang masih ada kelebihannya.

Kesibukan beliau mengajar ngaji para santri yang diasuhnya di Pondok Pesantren Assalafiyah, dan masyarakat Luwungragi sekitarnya. Beliau masih mempatkan diri untuk pergi kesawah, menengok tanaman padi ataupun bawang merah. Baik yang ditanam di tanah sawah miliknya sendiri atau juga ditanah orang lain dengan sistem sewa.

Ada kisah yang menarik ketika beliau menanam bawang merah, ngebon (bahasa Brebes) bersama teman-teman beliau di daerah Pecinan Jatibarang Brebes.

Seperti umumnya bagi masyarakat Brebes yang sedang menanam bawang merah, kadang terkena serangan ulat yang menggerogoti daun bawang merah, yang membuat petani pusing tujuh keliling, bahkan ada yang stress. Karena dengan serangan hama ulat tersebut, kadang membuat tanaman bawang sampai mati, sehinga petani bawang merah merugi.

Ketika K.H Subhan Ma’mun menyewa tanah bersama teman-teman beliau di daerah Pecinan Jatibarang, untuk menanam bawang merah. Ternyata setelah ditanam beberapa minggu, tanaman bawangnya diserang hama ulat daun dan serangan ulat tersebut merata ke tanaman bawang milik temannya, yang berada disatu komplek tanah yang disewa.

Mendengar bawang merahnya terkena ulat. Maka K.H. Subhan Ma’mun menengok kondisi sawah yang terkena ulat tersebut. Sesampainya di sawah, telihatlah ulat yang sedang makan tanaman bawang di pucuk daun bawang merah. Dengan sentuhan kelembutan hati, maka diambilah ulat tersebut dan diajak bicara.
“Wahai ulat, kamu ini mahkluknya Allah SWT. Saya juga sama seperti anda. Maka jangan ganggu tanaman bawang merah saya, silahkan pergi dan ajak teman-temanmu juga.” Kata K.H. Subhan Ma’mun, sambil menatap ulat yang diajak bicara dan menaruhnya kembali kesawah dengan baik, tanpa menyakiti ataupun membunuhnya.

Dengan perlakuan yang baik kepada binatang, walaupun seekor ulat yang memakan daun bawang merah milik petakan sawah K.H. Subhan Ma’mun. Ternyata, dibalik perlakuan tersebut, ulat memahami ketika diperlakukan dengan baik, maka ia akan berbuat baik pula, menurut dan mengikuti sang pemberi perintah.

Setalah ulat diajak bicara secara baik-baik. Alhasil esok harinya, tanaman bawang merah milik K.H. Subhan Ma’mun bersih dari ulat yang memakan daun bawang merahnya. Perlakuan dengan baik, kepada semua binatang apapun, walaupun kepada satu ekor ulat, ternyata mampu membawa ribuan ulat lainya pergi semua, dari sawah yang milik K.H Subhan Ma’mun yang ditanami bawang merah.

Dalam kepergian ribuan ulat dari sawah, ternyata hanya sawah yang ditanamin bawang merah milik K.H. Subhan Ma’mun saja. Sedangkan sawah yang di tanami bawang merah milik teman-teman K.H. Subhan Ma’mun, masih terkena serang hama ulat. Sehingga mereka harus menyemprot ulat tersebut dengan pestisida.

Singkat cerita, beberapa minggu kemudian, alhamdulillah tanaman bawang yang ditanam secara berkelompok bersama K.H. Subhan Ma’mun, dapat dipanen semua. Walaupun hanya K.H. Subhan Ma’mun sendiri yang tidak banyak mengelurkan uang untuk beli obat-obatan mengusir ulat. Karena ulatnya telah pergi dengan sendirinya. Mungkin teknik inilah yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu dalam memindahkan binatang ulat ketempat asalnya, termasuk K.H. Subhan Ma’mun yang diberi salah satu keistimewaan oleh Allah SWT dapat berkomunikasi dengan binatang ulat.

Perlakuan dengan binatang ulat oleh K.H.Subhan Ma’mun, ada sedikit berbeda dengan perlakuan yang diberikan pada semut dan tikus.

Menghindari tempat untuk berwudlu karena ada semut.
Pernah, pada suatu hari K.H. Subhan Ma’mun mau mengambil air wudlu, untuk aktivitas sholat malam, namun ketika beliau sampai di tempat wudlu, terlihat segerombolan semut yang berjalan beriringan dari tempat wudlu menuju tempat lain.

Melihat segerombolan semut tersebut. Maka K.H. Subhan Makmun yang awalnya mau mengambil air wudlu di tempat tersebut, tidak jadi. Beliau menghindari dan tidak mau mengganggu gerombolan semut yang sedang berjalan beriringan.

Aktivitas yang baik, tidak dibarengi dengan perilaku yang kurang baik, walaupun hanya mengganggu segerombolan semut. Inilah yang disampaikan oleh beliau. Mungkin dengan kita memberi jalan kepada semut menjadi perantara dimasukan disurga oleh Allah SWT dan terhalang oleh jilatan api neraka.

Sebagai santri yang sering ikut ngaji dengan beliau. Penulis berusaha mengambil ketauladanan yang beliau ajarkan, bagaimana cara memperlakukan binatang dengan baik dan tidak mengganggunya. Karena kita harus menyayangi semua binatang. Walaupun terhadap binatang yang menjijikkan seperti tikus.

Sebagimana cerita tikus yang dibantu oleh K.H. Subhan Ma’mun agar dapat keluar dari tong sampah.

Cerita ini dapat dikatakan, cerita yang membuat diri K.H. Subhan Ma’mun sendiri agak takut maupun terasa jijik, tetapi beliau memaksakan diri harus menolongnya. Karena terdengar berkali-kali usaha tikus agar bisa keluar dari tong sampah belum meraih hasil.

Awal cerita K.H. Subhan Ma’mun menolong tikus dari tong sampah sebagai berikut:

Ditengah keheningan dan sejuknya udara malam. Tiba-tiba terdengar suara yang tidak jauh dari tempak K.H. Subhan Ma’mun istirahat.

Dengan rasa penuh penasaran, maka didekatilah suara berisik tersebut. Setelah melangkahkan kakinya berjalan kesumber suara, maka semakin jelas bahwa kebisingan malam berasal dari tong sampah yang ada disamping rumahnya.

K.H Subhan Ma’mun pun, mencoba mendekat agar lebih jelas, apa yang terjadi sebenarnya.

Terlihatlah seekor tikus, yang mau keluar berkali-kali dari tong sampai, namun belum berhasil pula.

Tergeraklah hati K.H. Subhan Ma’mun untuk menolongnya. Namun beliau berfikir dengan car apa, Ia harus menolongnya.

Setelah menengok kekanan dan kekiri, terlihatlah sapu yang ditaruh dekat pojok rumah beliau. Dalam benak beliau, mungkin sapu ini dapat menolong tikus yang terjebak dalam tong sampah. Maka diambilah sapu tersebut dan ditaruh di tong sampah.

Tanpa harus menunggu lama, ternyata sapu yang ditaruh K.H. Subhan Ma’mun menjadi wasilah atau sarana bagi tikus tersebut untuk keluar, dari jebakan tong sampah yang membuatnya, terkungkung didalamnya berjam-jam.

Logika penulis, mungkin juga pembaca melihat tikus yang ada di tong sampah, bisa saja tikus tersebut langsung dibunuh, karena para tikus telah meresahkan dan suka memgambil makanan dan merusakkan peralatan dapur.

Tetapi ditangan K.H. Subhan Ma’mun tikus tersebut diselamatkan. Diberi kebebasan untuk hidup dan memberi jalan keluar dari jeratan tong sampah yang mengurungnya.

Ada pemandangan yang cukup menarik pula; ketika tikus tersebut sudah bebas dari tong sampah dan lari. Ternyata tiba-tiba beberapa meter kemudian, tikus tersebut berhenti dan menatap ke K.H. Subhan Ma’mun. Spertinya tikus tersebut mengucapkan terimakasih atas pertolongan yang diberikan oleh K.H. Subhan Ma’mun, yang telah membebaskan dari tempat kungkungan tong yang ada di tempat samping rumah beliau.

Wallahu’alam bishowab.

Oleh : Lukman Nur Hakim

Bagikan ke:

Share on facebook
Facebook
Share on email
Email
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Tinggalkan Komentar

Kamut Ulama Salaf

Wali Santri Ponpes 1

Untuk menjalin berkomunikasi antara pengurus, dengan wali  santri, silahkan klik tombol dibawah ini.

Wali Santri Ponpes 2

Untuk menjalin berkomunikasi antara pengurus, dengan wali  santri, silahkan klik tombol dibawah ini.

Alumni Ponpes 1

Wadah menjalin berkomunikasi antara Alumni Ponpes 1 silahkan klik tombol dibawah ini.

Alumni Ponpes 2

Wadah menjalin berkomunikasi antara Alumni Ponpes 2 silahkan klik tombol dibawah ini.

Konsultasi

Pondok I

Klik disini untuk chat dengan mengirim Pesan Whatshapp ke Pengurus Pondok Pesantren Assalafiyah I Brebes

Pondok II

Klik disini untuk chat dengan mengirim Pesan Whatshapp ke Pengurus Pondok Pesantren Assalafiyah II Brebes

Email

Klik disini untuk mengirim email kepada admin tentang pertanyaan dan saran untuk Ponpes Assalafiyah Brebes