Tim admin kita siap membantu menjawab pertanyaan anda. Silahkan tanyakan apa saja!

Percaya pada Semua Nabi

Oleh : H.Lukman Nur Hakim

Ngaji Tafsir Ibnu Katsir, setiap jumat di Masjid Istiqomah Luwungragi baru dimulai setelah libur sebelum puasa di tahun 1441 H. Tepatnya 23 Muharram 1442 H,atau bertepatan dengan tanggal 11 September 2020 M. Baru dimulai kembali.

Ada beberapa nasehat KH. Subhan dalam Ngaji Ibnu katsir yang beliau sampaikan.

Pertama, kalau anda mau ngajar ngaji, sebaiknya sholat sunnah terlebih dahulu. Hal ini dimaksud, dengan tujuan agar dapat menghalangi sifat dasar manusia yaitu “pamrih.” Atau sifat-sifat kemanusiaan lainya yang muncul dan dapat menghalangi kemudahan santri dalam menerima apa yang diajarkan.

Perlu diketahui, kita hanya wajib mengajar sedangkan yang memberi pemahaman itu Allah SWT. Dengan melaksanakan sholat sunnah sebelum mengajar memiliki tujuan, agar pengajar ataupun pendidik, terjaga dalam meluruskan niat karena Allah. Atau sholat sunnah tersebut dapat menjadi sebuah usaha untuk tidak terkalahkan dengan niat selain kepada Allah Swt.

Kedua, seseorang kalau sudah terlancur cinta pada dua hal, yaitu memilih salah satu antara ilmu atau harta. Maka kedua pilihan tersebut tidak akan membuat hidupnya merasa bosan.

Bila orang sudah terlanjur cinta dengan ilmu, maka ia akan selalu bergelut dan mengkaji ilmu terus menerus sepanjang hayatnya. Begitu pula dengan seseorang yang sudah cinta mati kepada harta, maka ia hidupnya akan terus mengejar-ngejar harta, sampai mau matipun, masih bercerita dan yang dipikirkan hartanya.

Kedua pilihan tersebut, sepertinya tidak sejalan beriringan. Seperti air dan minyak tanah. Dipastikan hanya satu yang menempel kuat pada seseorang.

Ketika seseorang memiliki orientasi hidup tertuju pada ilmu, maka dunia akan terkalahkan. Artinya berfikir akan kekayaan dan kemewahan dunia berada pada urutan kesekian dalam prinsip hidupnya. Namun biasanya bagi para pencinta ilmu, harta akan datang dengan sendirinya. Sehingga banyak terlihat ilmuan maupun ulama tercukupi kebutuhan hidupnya.

Adapun bagi pecinta dunia maupun harta, sedikit mengalami ke-enggan-an dalam urusan belajar mencari ilmu agama maupun ilmu lainya. Ia hanya berfokus bagaimana memperbanyak harta dan ketika melakukan sesuatu pula, lebih pada orientasi untung dan rugi dunia semata. Dominasi warna hidupnya selalu yang dikejar harta. Dengan hidupnya bergelimpangan harta,maka kesibukan kesaharianya, “Melindungi hartanya, bukan harta yang melindungi dirinya.”

Untuk menyeimbangkan dan mencukupi pemenuhan kebutuhan dunia dan kecintaan ilmu, dalam keluarga, bisa dapat dengan cara sebagai berikut; bila memiliki suami pencinta ilmu, maka urusan kebutuhan hidup di dunia, tidak sepenuhnya diurus oleh suami, namun harus dibagi dengan istri. Biarlah istri menjadi manajer dalam mengelola harta dalam rumah tangga. Dan kalau istri yang pecinta ilmu, hal ini dapat berlaku sebaliknya.

Biasanya, bagi para pelaku cinta ilmu, kurang profesional dalam mengurus pemenuhan kebutuhan hidupnya. Ia lebih suka membaca dan menkaji serta menganalisi berbagai buku. Dari pada usaha dagang, bertani maupun usaha lain untuk mendapatkan uang secara langsung. Karena disitu kurang mendapat kepuasan batin.

Ketiga, jadilah orang yang berada ditengah-tengah. Artinya kalau mencintai seseorang jangan berlebihan. Begitu pula sebaliknya, kalau membenci juga jangan berlebihan.

Banyak terjadi disekeliling kita, seperti para bagong (team sukses) pada tingkatan desa, kalau memuji calon yang diusung dirinya, sampai setinggi langit. Tetapi ketika calonya jadi, kemudian tidak mendapatkan apa-apa. Cintanya berbalik 180 dejarat, sampai ke dasar sumur. Ibarat cinta yang melejit berbalik menukik tajam, sampai dasar sumur yang kering.

Adapun kalau mengingat beci. Sepertinya ada puluhan bahkan ratusan orang, yang dulunya pernah dibenci. Sekarang menjadi penolong hidup sehari-hari, bahkan menjadi teman setia dalam kesusahan. Orang yang dibenci dulu, kini membawa berkah dalam hidupnya. Walaupun kadang malu kalau mengingatnya kembali.

Sikap tawazun, merupakan sikap yang dapat menyeimbangkan diri seseorang pada saat memilih sesuatu sesuai kebutuhan, tanpa condong atau berat sebelah terhadap suatu hal tersebut.

Begitu pula dalam berbicara, ataupun memutuskan suatu hukum, janganlah terlalu keras, sehingga nanti banyak orang, agama atau yang bersebrangan dengan pendapatkanya akan berbuat keras pula.

Jadilah orang-orang moderat atau Tasamuh (toleran) “sama-sama berlaku baik, lemah lembut, dan saling pemaaf.” Sikap tasamuh merupakan “sikap akhlak terpuji dalam pergaulan, di mana terdapat rasa saling menghargai antara sesama manusia dalam batas-batas yang digariskan oleh ajaran Islam”. Sehingga hdup akan tercipat saling menghargai, tidak keras, benci dan bermusuhan satu sama lainnya.

Janganlah mencaci maki pada orang yang tidak menyembah Allah. Nanti engkau akan dicacimaki pada pemilik agama tersebut. Islam diajarkan tidak menyinggung atau melakukan kekerasan pada agama lain, Islam lahir dengan penuh kedamaian.

Keempat, apapun yang terjadi, bahwa manusia lahir memiliki ketergantungan pada pimpinannya. Hal ini juga akan berpengaruh pada prinsip memegang keyakinan atau keimanan bagi rakyatnya. Seorang pemimpin memiliki peran yang sangat kuat dalam mengendalikan keyakinan dan keimanan anak buahnya. Corak warna cara memimpin, sangat dominan dalam mengantar keimanan seseorang. Selanjutnya kepercayaan ataupun keimaman penduduk yang terjadi, dapat dikatakan sebagai dampak dari sitem kepimpinannya yang dijalankan.

Tentunya wajib bagi kita untuk memilih pemimpin yang memiliki keimanan yang kuat dan sama. Agar terjama dalam beribadah, aman tanpa adanya larangan maupun pencekalan.

Kelima. Jangan mudah membuka rahasia pribadi pada orang lain, walaupun pada istrinya sendiri.

Dalam teman kita sendiri kadang ada yang memiliki hati yang kurang baik, itu sudah menjadi naluri umum manusia. Maka ketika suka pada seseorang, jangan suka membuka aib dirinya sendiri, dikhawatirkan suatu saat nanti akan dibuka pada orang lain.

Begitu pula pada istri sendiri, janganlah bercerita rahasia romantisme masa lalu dengan orang lain, diceritakan sama istrinya. Hal ini dimungkinkan akan membawa kekecewaan dan kemarahan sang istri. Biarlah masa-masa yang menyenangkan sebelum menikah, dipendam sedalam-dalamnya dan jangan diceritakan. Kalupun diceritakan khawatir akan terjadi perang dapur.

Keenam : pentingnya keturunan. Kisah Nabi Musa As. dan Musa samiri sebagai pelajaran yang berharga bagi kita semua. Dalam memahami arti pentingnya keturunan.

Cerita Samiri tokoh kafir yang bercita-cita ingin jadi Tuhan, yang berasal dari bani Israil dari suku As-Samirah (Samaria). Adapun Samiri menjadi pengikut Nabi Musa AS, karena pernah dibantu dan ditolong oleh Nabi Musa. Namun lambat laut, ia menghianati Nabi Musa dan mengajarkan kesesatan, dengan membuat berhala sapi dari emas, yang dijadikan sesembahan. Musa Samiri anak dari Zafar hasil perzinaan, dan hebatnya Samiri adalah mendapatkan pengasuhan dari malaikat Jibril sejak kecil.

Sedangkan Nabi Musa merupakan putra Imran bin Qahats bin A’azar bin Laawi bin Ya’kub bin Ishak bin Ibrahim. Dari keturunan Nabi namun sejak kecil berada dalam genggaman raja firaun yang mengaku menjadi Tuhan.

Mari kita perhatikan. Samiri yang mendapat didikan dari Malaikat Jibril, dewasa menjadi kafir. Sedangkan Musa yang berada dalam genggaman firaun menjadi Nabi. Kisah ini dapat kita ambil sebagai salah satu acuan, bahwa keturunan memiliki peranan yang kuat dalam perilaku keimanan seseorang setelah dewasa. Sehingga hal ini dapat di tarik benang merahnya dalam hal memilih sesuatu. Maka keturunan menjadi salah satu rujukan, sebelum mengambil keputusan.

Dibawah ini, penulis mencoba memahami Ngaji Ibnu Katsir pada surat An-Nisa ayat 150-152, yang disampaikan oleh KH. Subhan Ma’mun pengasuh pondok pesanteran di Masjid Istiqomah Luwungragi Bulakamba Brebes.

Al Quran surat An-Nisa ayat 150-152

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلا (١٥٠)
أُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا (١٥١)
وَالَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلَمْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ أُولَئِكَ سَوْفَ يُؤْتِيهِمْ أُجُورَهُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (١٥٢)

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, ‘Kami beriman kepada sebagian (dari rasul-rasul itu), dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain),’ serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (lain) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, ke lak Allah akan memberikan kepada mereka pahala. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Adapun pelajaran yang dapat di ambil dari Surat An-Nisa 150-152 adalah sebagai berikut;
Allah Swt. mengecam tindakan orang-orang yang kafir kepada-Nya dan kepada rasul-rasul-Nya dari kalangan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Karena mereka dalam imannya membeda-bedakan antara iman kepada Allah dan iman kepada rasul-rasul-Nya. Mereka beriman kepada sebagian para nabi dan mengingkari sebagian yang lainnya, hanya berdasarkan selera dan tradisi serta apa yang mereka jumpai dari nenek moyang mereka semata, sama sekali tidak berdasarkan kepada dalil yang melandasi keyakinan mereka. Sebenarnya tidak ada jalan bagi mereka untuk itu, yang mendorong mereka berbuat hal tersebut hanyalah semata-mata karena dorongan hawa nafsu dan fanatisme.

Kafir kepada salah satu Nabi, siapa pun dia, berarti kafir kepada seluruhnya. Ini karena ajaran Islam merupakan satu kesatuan. Kalau iman pada nabi yang satu,maka kepada para nabi yang lain juga harus di imani. Percaya kepada Nabi-Nabi Allah itu hukumnya wajib.

Keimanan kepada para Nabi tidak bisa di pisah-pisahkan, seperti pada orang yahudi beriman kepada seluruh Nabi, namun tidak percaya pada Nabi Isa dan Nabi Muhammad. Orang-orang Nasrani percaya pada seluruh Nabi, tetapi Nabi terakhir sebagai penutup para Nabi tidak percaya.

Ketika orang-orang kafir hendak membuat jalan tersendiri antara iman dan kafir. “merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya.”(An-Nisa: 151)

Kekafiran orang yahudi dan Nasroni, tidak bisa lepas dari rasa dengki kepada Nabi Muhammad Saw. Sehingga mereka sampai sekarang menentang, mendustakan, memusuhi, dan memeranginya. Seandainya dapat dikatakan mereka memilki keimanan kepada para Nabi Allah Swt. Dipastikan mereka akan beriman kepada Nabi Muhammad. Sebab Muhammad Saw. sebagai Nabi dan Rasul memiliki hujah dalil dan bukti yang paling kuat.

Wallu ‘alam bishowab

Bagikan ke:

Share on facebook
Facebook
Share on email
Email
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Tinggalkan Komentar

Kamut Ulama Salaf

Wali Santri Ponpes 1

Untuk menjalin berkomunikasi antara pengurus, dengan wali  santri, silahkan klik tombol dibawah ini.

Wali Santri Ponpes 2

Untuk menjalin berkomunikasi antara pengurus, dengan wali  santri, silahkan klik tombol dibawah ini.

Alumni Ponpes 1

Wadah menjalin berkomunikasi antara Alumni Ponpes 1 silahkan klik tombol dibawah ini.

Alumni Ponpes 2

Wadah menjalin berkomunikasi antara Alumni Ponpes 2 silahkan klik tombol dibawah ini.

Konsultasi

Pondok I

Klik disini untuk chat dengan mengirim Pesan Whatshapp ke Pengurus Pondok Pesantren Assalafiyah I Brebes

Pondok II

Klik disini untuk chat dengan mengirim Pesan Whatshapp ke Pengurus Pondok Pesantren Assalafiyah II Brebes

Email

Klik disini untuk mengirim email kepada admin tentang pertanyaan dan saran untuk Ponpes Assalafiyah Brebes