Tim admin kita siap membantu menjawab pertanyaan anda. Silahkan tanyakan apa saja!

SELEKTIF DALAM PERTEMANAN

SELEKTIF DALAM PERTEMANAN
Oleh : H.Lukman Nur Hakim

Luwungragi, 13 Ramadhan 1422 H ( 25/4/2021) ngaji rutin Ramadhan setiap sore, bersama K.H. Subhan Ma’mun di Pondok Asslafiyah Luwungragi Bulakamba yang beliau asuh. Dengan yang dikaji kitab Bidayatul Hidayah Karya Imam Al-Ghozali.

Menurut K.H. Subhan Ma’mun pada kondosi era sekarang, kita harus selektif dalam memilih teman.

Tinggalkan teman atau guru yang suka mengajak atau yang bicaranya mengundang perdebatan dan membid’ah-bid’ahkan. Karena hal ini dapat membuat perpecahan umat ataupun pertemanan. Dan pertemanan seperti ini akan merusak persatuan dan kesatuan bangsa. Serta akan membuat ketidaknyamanan dalam beragama.

K.H. Subhan Ma’mun mengingatkan kepada para jamaah yang ngaji. Agar jamaah ngaji, mampu menguasai ilmu yang dipelajarinya. Sehingga ilmu tersebut dapat diterapkan di tempat manapun. Jangan hanya ditulis saja, atau tersimpan dalam laptop.

Dalam hal pertemanan, kita harus berpikir seribu kali jika mempunyai teman yang suka hasud. Karena dalam pemikiran orang hasud, hanya selalu menginginkan kecelakaan atau kehancuran temannya. Bukan kebahagiaan atau kesuksesan seorang teman.

Orang hasud selalu mengharapkan hilangnya kebahagian temannya. Kalau seandainya teman beli para bola, ia akan beli paramek (obat sakit kepala), karena kepala pusing melihat kebahagiaan teman. Kalau ada orang hafal Al-Qur’an, ia akan berharap mudah-mudah hafalannya hilang.

Sifat buruk sangka yang dimiliki teman yang suka hasud, tentu akan membuat pertemanan cepat putus. Dan orang hasud sendiri dalam berbagai hal, suka mengedepankan berfikir negatif (negative thinking), meninggalkan klarifikasi apalagi berfikir husnudhon.

Hati-hati juga dalam pertemanan, pada orang yang suka menjelek-jelekkan orang lain. Misalnya ketika seorang teman tidak bisa mendatangi undangan walimah. Kemudian sang pemilik hajat berprasangka bahwa karena dirinya miskin sehingga temannya tidak mau datang. Teman yang suka berprasangka jelek seperti itu, layak direkomendasi tidak dijadikan teman.

Ketika ada seorang teman yang tidak mau membuka diri dan hanya suudzon saja, lebih suka berbisik-bisik dan sering menggunakan bahasa isyarat yang tidak enak dilihat seperti mengedip-ngedipkan matanya, maka tipe teman seperti ini pula harus dihindari. Jangan dijadikan teman. Karena haram hukumnya dalam majelis ada dua orang yang suka berbisik bisik atau menggunakan bahasa isyarat dimana yang lain tidak mengetahui apa yang dimaksudkan.

Hindari pula pertemanan pada orang yang suka menghitung-hitung kalimat yang sering dikeluarkan, terutama ketika berbicara dimuka umum atau saat mengajar. Apalagi menghitung kekeliruan, apa-apa yang disampaikannya.

Carilah teman yang mau menutupi keburukan dan kesalahan kita. Bukan yang membuka rahasia kita, apalagi memberbicarakan kita pada teman-teman kita sendiri. Atau kalau marah suka membuka aib kita. Karena sejatinya teman itu, harus bisa menutupi aib dan kekurangan temannya.

Sebagaimana juga makna suami atau istri yang berbunyi hunna libatsullakum wa antum libatsullahunna bahwa istri adalah pakaian suami dan suami adalah pakaian istri. Dalam hal ini, suami mampu menutupi kekurangan dan kejelekkan istrinya. Begitu pula istri harus mampu menutupi kejelekan yang dimiliki suami. Jangan jadi istri yang jasadnya manusia tetapi hatinya srigala.

Ingat! dalam pertemanan, mengharapkan kebaikan dari seseorang teman tidak apa-apa. Yang tidak boleh, mengharapkan hilangnya kenikmatan yang dimiliki seorang teman.

Ketahuilah, ketika ada teman yang baik suka berinfak, ada doa dari para malaikat ” Berilah orang yang berinfak diganti dengan kebaikan, dan berilah orang yang pelit atau kikir diganti kerusakan.” Oleh karena itu, prilaku jelek, kikir, sebenarnya akan merusakkan dirinya sendiri.

Bila kita memiliki teman yang suka mengadu domba (namimah), suka memberi kabar kurang baik, pada orang atau kelompoknya sendiri. Maka katakan pada orang suka mengadu domba, “Tidak akan masuk Surga awal, orang yang suka mengadu domba.” (Al-Hadits)

Ada cerita yang menarik dari K.H. Subhan Ma’mun untuk direnungkan bersama, tentang orang tua awam yang selalu ngaji, sama Kyai Ma’mun orang tua K.H. Subhan. Ketika orang yang ngaji terus ditanya : “Beli terus kapan jualnya.” Sebuah sindiran bagi orang awam yang ngaji terus, tetapi tidak mengajar. Karena yang disindir orang awam dan nggak mungkin bisa ngajar, karena dia hanya hanya jiping (ngaji kuping) saja.

Ketahuilah, dalam ngaji ada keberkahan. Kalau saat ini, kita ngaji hanya mendengarkan saja, tidak membawa kitab apalagi ikut menyimaknya. Sekarang kita belum bisa ngaji pakai kitab. Insya Allah anak atau cucu kita, akan bisa. Karena keberkahan ngaji, kalau tidak turun kepada kita, akan turun untuk anak atau cucu kita.

Ada juga tradisi membuat sagon, pada saat lebaran. Hal ini dimaksud, agar dalam silaturrahmi tidak banyak membicarakan aib atau kejelekan orang lain. Karena kurang baik untuk dirinya sendiri dan tuan rumah. Dalam setiap budaya yang dibuat para orang tua kita, ada pendidikan yang mereka ajarkan.

Mugi manfaat. Wallahu’alam bishowab.

Bagikan ke:

Share on facebook
Facebook
Share on email
Email
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Tinggalkan Komentar

Kamut Ulama Salaf

Wali Santri Ponpes 1

Untuk menjalin berkomunikasi antara pengurus, dengan wali  santri, silahkan klik tombol dibawah ini.

Wali Santri Ponpes 2

Untuk menjalin berkomunikasi antara pengurus, dengan wali  santri, silahkan klik tombol dibawah ini.

Alumni Ponpes 1

Wadah menjalin berkomunikasi antara Alumni Ponpes 1 silahkan klik tombol dibawah ini.

Alumni Ponpes 2

Wadah menjalin berkomunikasi antara Alumni Ponpes 2 silahkan klik tombol dibawah ini.

Konsultasi

Pondok I

Klik disini untuk chat dengan mengirim Pesan Whatshapp ke Pengurus Pondok Pesantren Assalafiyah I Brebes

Pondok II

Klik disini untuk chat dengan mengirim Pesan Whatshapp ke Pengurus Pondok Pesantren Assalafiyah II Brebes

Email

Klik disini untuk mengirim email kepada admin tentang pertanyaan dan saran untuk Ponpes Assalafiyah Brebes